My Diary.
to share my ups-and-downs events

Kepompong

"Teman yang cocok di kehidupan sehari-hari, belum tentu pas saat diajak mendaki gunung, menyusuri sungai, dan melewati banyak kesulitan dalam perjalanan. Namun, melalui perjalanan kita dapat memurnikan makna persahabatan.” 

Narastika dan saya sama-sama hobi bervakansi. Pada 2010, kami mendapatkan beasiswa pertukaran pemuda ke Luton, Inggris. Meski program itu melarang peserta traveling ke kota lain tanpa asistensi dari supervisor, kami nekat ngetrip ke London (sekitar 50 kilometer dari Luton).
 
Di London, kami menyusuri Sungai Thames, menikmati keindahan arsitektur Istana Buckingham yang megah dan mewah, menonton drama musikal Shakespeare (meskipun tidak paham jalan ceritanya!) di Globe Theather, meresapi kehidupan malam di sekitar London Eye, berfoto dengan mannequin, dan melakukan banyak hal lain.

Malam itu, dengan rasa haru dan gembira kami pulang ke Luton naik kereta cepat. Sepanjang perjalanan, Narastika dan saya menahan dingin karena tubuh kami hanya dibalut jaket tipis. Kami juga menahan lapar karena tidak sanggup membayar makanan paling murah di Chinese Food Restaurant di London. Meskipun kere, tetapi hore!

Pengalaman menyenangkan itu membuat kami bercita-cita untuk lebih banyak lagi melakukan perjalanan bersama. Kalau di Inggris kami ikut program Global Xchange dari British Council, next trip kami bercita-cita untuk tetap traveling meski tanpa sponsor.

Pada 2013, kami punya ambisi keliling Asia dalam satu tahun! Hahahhaa!! Cita-cita muluk, yang belum terwujud. Tetapi, sebagian mimpi itu mewujud nyata dengan melakukan perjalanan ke Malaysia, Singapura, dan Jepang. Sekali lagi, meski kere, tetapi hore!

Setelah mengunjungi banyak tempat-tempat bersama Narastika, saya sadar perjalanan adalah moment yang tepat untuk memurnikan makna persahabatan.



Di perjalanan, kita menghadapi tantangan utama, yaitu membangun toleransi dan komunikasi bersama travelmate. Perjalanan sungguh menguras waktu, tenaga, dan emosi! Perjalanan bersama teman yang kurang cocok bisa bikin bete, mood rusak, berantem, rencana perjalanan buyar. Sebaliknya, perjalanan dengan teman yang pas membuat pengalaman semakin berkesan. 

Namun, saya yakin, seperti jodoh (kayak ngerti ajaa hehe), cocok atau tidaknya dengan teman seperjalanan bisa dibangun. :)

Sejak delapan bulan sebelum perjalanan, Narastika dan saya sudah mempersiapkan jalan-jalan hemat di Negeri Sakura. Kami mengatur itinerary, mencari hotel, memesan tiket pesawat dan tiket kereta dan bus lokal, dan memasang target lulus kuliah! (FYI, demi bisa traveling setelah lulus kuliah saya mengerjakan skripsi dalam waktu tiga bulan! :D)

Dari mengatur itinerary, sebenarnya sudah terlihat bagaimana perbedaan sikap Narastika dan saya dalam memandang perjalanan ini. Narastika sungguh well-organized, dia mengatur itinerary perjalanan tidak hanya hari-per-hari, tetapi jam-per-jam! Dia juga mengatur rencana penginapan dan transportasi dengan sangat detail. Hal ini sungguh-sungguh berbeda dengan saya, yang super slebor!

Kalau bepergian, saya hanya punya gambaran besar dan kasar mengenai kota yang ingin saya kunjungi dan berapa lama saya akan tinggal di sana. Saya sama sekali tidak memikirkan, seharian (dari jam-per-jam) mau ngapain aja, yang ada di benak saya: “Lihat nanti saja deh mau mengunjungi apa! Tergantung mood!” Narastika kekeuh jadwal harus fixed sebelum berangkat karena akan mempengaruhi budget. Baiklaah, saya menyerah. Dan kami pun menyusun itinerary secara rigid.

Dalam diskusi, saya memberi beberapa destinasi yang ingin saya kunjungi. Narastika yang akan memasukkannya dalam tabel-tabel itinerary disesuaikan dengan budget dan kondisi geografis

Sesampainya di Jepang, perbedaan sikap kami semakin terasa. Narastika bergerak disiplin mengikuti jadwal, sedangkan saya lebih acak, dan mau menikmati slow-journey dengan, misalnya, berlama-lama menghayati sejarah Kota Hiroshima, berdialog dengan masyarakat setempat seperti para tukang becak Jepang, mencicipi makan makanan lokal, dsb. 

Saya sempat bete karena merasa hidup seperti diatur-atur dengan itinerary. Narastika juga pasti bete karena gerak saya super lambat dan mood mudah berubah-ubah. :(

Seringkali, tantangan dalam perjalanan bukanlah keterbatasan bahasa atau uang atau waktu dan sebagainya, tantangan dalam perjalanan adalah membangun toleransi dan komunikasi dengan orang lain agar perjalanan menyenangkan! 

Sekalipun kita adalah solo traveler, bukankah kita tidak akan pernah betul-betul sendirian dalam perjalanan? Lalu apakah Narastika benar karena menyiapkan perjalanan dengan lebih detail sedangkan saya salah karena tergolong orang yang acak dan tidak terjadwal? 

Beberapa orang mungkin suka gaya traveling teragenda, beberapa orang lain suka style travelling yang spontan. Dalam perjalanan tidak ada yang lebih benar atau lebih salah karena semua keputusan yang diambil tergantung situasi dan kondisi. Persiapan sebelum trip memang penting, tetapi spontanitas dan fleksibilitas juga sangat dibutuhkan.

Ketika dua kepala memiliki isi otak yang berbeda, akhirnya masalah yang timbul adalah keinginan pribadi tidak sesuai dengan keinginan orang lain. Misalnya, saya sangat ingin naik Gunung Fuji. Sementara Narastika sama sekali tidak tertarik naik gunung. Untungnya, perbedaan ini tidak berujung pada percekcokan, adu mulut, jambak-jambakan, bete-betean, dan akhirnya malah jadi ngegosipin keburukan teman di kemudian hari.

 Untuk mencegah peperangan (oke, ini lebay :D) kami mencoba sampaikan keinginan pribadi sejelas-jelasnya dan coba mendengarkan travel partner untuk mencari jalan tengah.

Akhirnya kami mengambil jalan tengah: saya akan naik Gunung Fuji, sementara Narastika akan mengujungi Musium Ghibli bersama gebetannya (Cieee cieee). Ini merupakan jalan tengah yang sempurna, karena dengan berpisah kami bisa mendapatkan apa yang kami inginkan dan berbagi pengalaman saat bertemu kembali.

Saya sangaaattt senang naik Gunung Fuji, tetapi lebih senang lagi ketika bertemu Narastika lagi di hostel!! Dia menyambut saya dan mengucapkan selamat karena saya sukses mengibarkan bendera merah putih di Puncak Fujisan! AAAAHH, Tikaaa!!! Saya gak mungkin mewujudkan cita-cita ini tanpa kamuuu!! *langsung meweeekkk*

Agar perjalanan menyenangkan, kami juga coba untuk saling mengalah demi memenuhi keinginan teman. Narastika menemani saya ke Shimokitazawa, distrik yang menjual barang-barang antik! Sementara saya menemanik Tika ke kota satellite, Yokohama (di sini kami nonton sirkus gratisan!). 

Di Shimokitazawa kami makan siang di sebuah kafe yang kelihatannya keren. Saya memesan pasta dengan cara asal tunjuk menu karena buku menunya berbahasa Jepang dan pelayannya enggak ngerti Bahasa Inggris. Ternyata itu adalah pasta telur ikan.... yekss!! Dulu makan ikan aja saya enggak doyan, apalagi telur ikan T.T.... Saya sangat terkesan karena Narastika mau membagi makanannya supaya saya enggak kelaperan.... (Makasihhh Tikaaa.... *mewek lagi*)

Di Meiji Shirine, saya kehabisan uang kecil. Narastika juga begitu baik menyumbangkan sebagian uang recehnya supaya saya bisa beli papan doa. Kalau doa itu terwujud, sungguh ini berkat kemurahan hati Narastika! (Makasihhh Tikaaa.... *mewek lagi untuk kesekian kali...)




Dengan berbagi kita tidak akan pernah merugi. Justru mendapatkan banyaaak pengalaman seru dan unik. Setiap kali saya bertemu Narastika, kami akan tertawa sampai perut sakit mengingat banyak hal bodoh yang kami lakukan. Di perjalanan, kami lebih mengenal diri sendiri, dan bisa saling beradaptasi dengan sahabat. 

Karena Narastika sangat terjadwal, saya yang biasanya bangun siang jadi bangun lebih pagi. Sebaliknya, Narastika malah kesiangan terus!! “Ayo Tika, sudah jam 7!! Ayo kita jalan-jalan!!” jerit saya setiap hari di dormitory. Wkwkwk. Saya juga belajar bikin travel plan yang baik dan benar. :D

Tika yang hobi motret membuat album foto kami jadi lengkappp. Azeeekkk…. Tika yang biasanya jarang mau bergaul dengan random people, jadi lebih gampang ngobrol dengan orang lain. (Ada Om Ti, ada Mas H*dson, mas-mas di Kyoto dll wkkwkk).

Berbicara soal persahabatan saya jadi ingat lagu hits berjudul "Kepompong": Persahabatan bagai kepompong mengubah ulat menjadi kupu-kupu persahabatan bagai kepompong hal yang tak mudah berubah jadi indah. Persahabatan bagai kepompong maklumi teman hadapi perbedaan... 

Perjalanan tidak hanya menawarkan pengalaman mengunjungi tempat-tempat unik dan indah, atau kebanggaan bisa selfie dan pamer foto-foto di facebook, perjalanan juga menawarkan kebersamaan, keceriaan, dan membuat kita lebih memaklumi perbedaan... selama perjalanan, teman selalu datang dan pergi, tetapi kenangan akan bertahan selamanya. :)

-


rambutkriwil rambutkriwil Author

Ngetrip Bersama Keluarga ke Timur Tengah?? Nggak Banget!!

Bagi kebanyakan umat Katolik, perjalanan menuju Tanah Terjanji Yerusalem seperti “naik haji”. 

Selama perjalanan, para peziarah diajak menembus hamparan padang gurun, melewati kebun-kebun kurma dan anggur, serta menyusuri kota-kota indah di Timur Tengah untuk mengenang perjalanan bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir. Di Israel dan Palestina, para peziarah mengenang peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Yesus.

Karena sudah seperti “naik haji”, orang tua saya kepingin mengunjungi Tanah Terjanji Yerusalem serta tempat-tempat lain yang disebutkan di dalam Alkitab.  

Pada 2014, ayah dan ibu mendaftar perjalanan ziarah ke Mesir, Israel, Palestina, dan Jordan. Namun, niat itu batal terlaksana karena dua minggu menjelang keberangkatan, ayah sakit.

Suatu hari, keluarga kami kembali menyusun rencana perjalanan ke Timur Tengah. Kali ini, yang akan berangkat full team, alias ayah dan ibu dan dua anaknya, yaitu Raditya dan saya.

Seumur-umur saya tidak pernah membayangkan akan melakukan perjalanan bersama keluarga! Ke luar negeri pula! Ke Timur Tengah pula!! Bakalan rempoooonggg, cyiiin….

Kenapa saya ogah trip dengan keluarga?

Pertama, saya sering berantem dengan kakak saya, Raditya Beken Wicaksana. Raditya itu model kakak penindas yang kemauannya harus selalu dituruti (Hahaha). Sementara saya, model adik manja dan merepotkan. Perbedaan sikap ini membuat hari-hari kami diisi adu mulut sampai adu cakar alias berantem fisik.

Selain sering bertengkar, style trip kami juga berbeda. Raditya senang menghabiskan waktu di tempat yang santai dan tenang, seperti di pantai. Sebaliknya, saya suka perjalanan menantang, seperti mendaki gunung, menuruni lembah, dan menyelam di dalamnya perasaan (HALAH).

Saat pulang kampung, kakak saya bakalan membawa koper, serta memakai baju dan sepatu keren. Sedangkan saya sudah cukup hepi memakai jeans belel dan menyangklong ransel. Kelihatan perbedaannya kan? So, bagi saya, perjalanan bersama Raditya, it’s a big no no

Kedua, kalau jalan bersama Raditya saja saya bakal mikir seribu kali, apalagi jalan bareng orang tua! Bagi ayah dan ibu, napak tilas di Tanah Suci merupakan perjalanan ke luar negeri pertama. Orang tua yang biasanya hidup dalam kultur Indonesia, akan melihat dunia luar dengan segala perbedaannya. Sumpaah dehh, ini ribet banget!

Sebelum berangkat, ibu sudah menanyakan dan mengkhawatirkan banyak hal gak penting, seperti “Nanti di Israel ada nasi gak ya?”, “Kalau pas jalan capek, bisa istirahat gak?”, “Trus, bicaranya pakai bahasa apa?”. Saya jawab saja: “Bicara pakai bahasa Tarzan, Ma!” Setelah itu saya dicubit!

Terbersit perjalanan yang seharusnya asyik dan kaya pengalaman bakalan ribet dengan hal remeh-temeh yang sebenarnya tidak perlu dipusingkan! Namun, karena ini keinginan orang tua, apa salahnya (untuk kali ini saja!) saya menurut? Lagian, kapan lagiii bisa ke Timur Tengah??

Karena memang hobi vakansi, saya menganggap perjalanan ini sebagai ziarah plus plus (seperti pijat plus-plus hehee). Saya sebut “plus-plus” karena perjalanan ini tak melulu tentang berdoa dan memuji nama Allah. Hampir setiap hari, selalu ada kesempatan mencoba makanan khas, mencicipi anggur lokal, foto-foto, dan tentu saja berbelanja!

Saat ayah dan ibu sibuk berbelanja perlengkapan doa, seperti Alkitab dan Rosario, kakak saya bakalan riwueh mencari pedagang miras!! Gubraak!! Betapa perjalanan ini adalah campuran kepentingan duniawi dan surgawi!

Berbekal tekad kuat bahwa perjalanan ini akan berhasil, saya mencoba menjaga pikiran positif. Selama perjalanan, sebisa mungkin kami membangun toleransi dan komunikasi, menekan keinginan pribadi yang tidak sesuai dengan harapan keluarga dan kelompok peziarahan, serta menciptakan kenangan yang baik dengan tetap berusaha have fun!

Seiring waktu, saya semakin mengerti perjalanan ini mendewasakan dan membuat kami menembus berbagai keterbatasan diri sendiri: Raditya yang biasanya nggak pernah mau naik gunung, untuk pertama kalinya (setelah dipaksa) akhirnya bersedia mendaki Gunung Sinai. Ibu yang takut ketinggian, akhirnya mencoba naik kereta gantung di Gunung Hermon. Ayah yang biasanya enggan menempuh perjalanan jauh akhirnya sukses menembus perjalan ke Timur Tengah.

Kalau saya gimana? Wah, banyak sekali pengalaman dan pelajaran hidup yang saya dapatkan! Mulai dari jangan mudah panik, meskipun passport hilang di Israel dan nyaris nggak bisa pulang ke Tanah Air, hingga pelajaran hidup bahwa mimpi dapat diwujudkan, termasuk mimpi bervakansi di Timur Tengah!

Hingga perjalanan ini berakhir, saya tetap pada kesimpulan: ngetrip bersama keluarga ke Timur Tengah?? Nggak banget!! I’m not telling you it’s easy, but it's worth it!

-

Keterangan foto: Pemandangan di tepi Danau Galilea, Israel, Desember 2015. Danau ini merupakan sumber air minum utama Bangsa Israel. Pemandangan yang indah membuat banyak keluarga sering berlibur di Danau Galilea.
rambutkriwil rambutkriwil Author

Diculik Setan


“Tolong pak, tolong… Anak saya diculik!!” samar-samar saya jeritan seorang ibu tersengar melalui handy talkie di markas wartawan di daerah Jakarta Selatan. Alat komunikasi itu terhubung dengan alat milik aparat penerima laporan masyarakat.
 
Saya, yang sedang menyeruput kopi, tersedak. “Ada apa tuh?”

“Penculikan!!!” seru teman saya. Sambil tergesa-gesa, dia lalu berdiri dan mengemasi barang-barangnya, seperti telepon genggam, kamera, dan rokok, masuk ke dalam tas. Beberapa jurnalis lain segera menyambar kunci motor. “Dengerin woy, alamatnya di mana!” kata teman saya.

Di antara jeritan suara sang pelapor, saya mendengar alamat “penculikan” di Jalan Ampera, Ragunan, Jakarta Selatan. “Deket kantor pengadilan tuh! Ayo buruan, lo ikut gak?”  tanya teman saya.

Saya, sedikit bingung harus bagaimana… melihat teman-teman jurnalis tergesa-gesa menuju TKP (tempat kejadian perkara), saya ikut saja. “Gua nebeng yaa!” kata saya, lalu naik ke atas motor.

Wartawan perkotaan memang terkenal sebagai tim buser (buru sergap). Mendapat informasi apa pun, kapan pun, di mana pun, langsung bergerak ke lokasi peristiwa. Mulai dari kebakaran, kecelakaan, pencurian, penculikan, penipuan, pemerkosaan, penjambretan, dan pe… pe… lainnya, kami segera meluncur ke TKP. Sudah menjadi bagian tugas seorang pewarta untuk sebisa mungkin menjadi yang pertama tiba di lokasi kejadian dan melihat peristiwa dengan mata kepala sendiri.

Dengan ritme kerja yang serba cepat, serba tergesa, saya sempat mengalami kesulitan adaptasi di awal-awal tugas. Untungnya saya punya teman-teman pewarta dari berbagai media. Beberapa orang adalah fotografer, kontributor televisi, reporter media online, atau repoter media cetak. Kami sering berbagi info peristiwa. Kalau ada kejadian, saya sering membonceng teman wartawan yang jago menerobos kemacetan. Kadang saya heran, mereka ini wartawan atau pembalap sihh? :D

-

Singkat cerita, begitu mendapat laporan ada seseorang “diculik”, kami meluncur ke lokasi kejadian. Menembus kemacetan Kota Jakarta…. menerobos teriknya sinar matahari yang membakar kulit dan menerabas debu-debu sisa proyek pembangunan yang beterbangangan! 

“Kira-kira kenapa yaa tuh orang diculik?” tanya Bang Kriting, camera person TV K, saat motor kami berhenti di dekat lampu merah yang menyala. Suaranya hampir tidak terdengar karena berbarengan dengan bunyi klakson bus yang memekakan telinga!

“Gua yakin sih, ini masalah harta! Biar bisa minta uang tebusan!” jawab Bang Vandi, teman saya, dari motor sebelah. 

“Kok Bang Vandi yakin?” tanya saya.

“Iyalah pasti…. Ngapain orang diculik kalau bukan karena masalah harta?” 

Begitu lampu hijau menyala, kami kembali tancap gas. Saling adu kecepatan menuju lokasi peristiwa. 

Di dekat pengadilan negeri Jakarta Selatan, motor berbelok ke kanan. Menyusuri gang dengan impitan rumah-rumah penduduk di sisi kiri dan kanannya. Saat itu, jantung seperti berdegup kencang. Antara penasaran dan ngeri-ngeri sedap membayangkan kalau ketika kami datang para penjahat masih ada di lokasi kejadian. Waah bisa jadi seperti film action nih!

Setelah menyusuri gang sempit, melewati rumah-rumah penduduk, kami sama sekali tidak melihat ada tanda-tanda penculikan atau gerak-gerik mencurigakan dari orang-orang sekitar. Suasana perkampungan itu malah tenang, adem ayem.

Di salah satu warung, motor berhenti. Kepada pedagang, saya bertanya rumah Warsinah, korban penculikan. “Tuh, rumahnya di sebelah,” kata pedagang itu.

Beberapa teman jurnalis saling memandang. “Rumahnya adem ayem begitu…” tutur Bang Badri.
“Saya coba masuk deh,” kata saya. Teman-teman mengangguk setuju. 

Saat saya masuk ke dalam rumah itu untuk mengecek informasi, teman-teman menunggu di warung.

Rumah Warsinah tidak terlalu besar, tetapi halamannya luas. Di teras rumah itu, seorang polisi duduk sambil berbicara menggunakan handy talkie.

“Permisi pak. Bu Warsinah ada?” tanya saya.

“Ada, itu di dalam. Mbak siapa ya?” kata Pak Polisi.

“Saya wartawan pak, dapat info Warsinah diculik.”

“Enggak… Enggak diculik…”

“Masa sih pak? Bapak yakin?” tanya saya, masih tidak percaya.

“Yakin Mbak, 'kan saya polisinya…” jawab Si Bapak. Oiya ya! Hahahhaaa.

“Terus dia kenapa Pak?”

“Kesambet Mbak… Kesambet setan. Itu dirumah lagi diruwat,” kata Pak Polisi. 

“D-i-r-u-w-a-t? Kenapa infonya diculik?” tanya saya.

“Tadi Warsinah kesambet setan, terus teriak-teriak sambil menelepon ibunya. Ibunya, yang ada di luar kota kaget. Ibunya pikir, Warsinah diculik. Jadi lapor ke polisi,” jelas Pak Polisi itu. “Kalau Mbak tidak percaya lihat aja ke dalam rumah,” katanya lagi.

Saya lalu diajak masuk ke rumah. Di ruang tengah, seorang perempuan sedang duduk lesehan di antara beberapa pria. Seorang laki-laki dengan jubah warna hitam membisikan doa di telingan perempuan itu, lalu memerciki dia dengan air kembang.“Itu yang namanya Warsinah!” bisik Pak Polisi, sambil menunjuk ke arah perempuan dengan rambut panjang.

Saya sempat terbengong-bengong mendapat kenyataan di siang bolong itu. Pertama karena ternyata informasi ada perempuan diculik itu HOAX. Kedua, karena di tengah kota Jakarta yang serba megah dan mewah, peristiwa kesambet setan dan budaya ruwat masih lestari. 

Kadang saya berpikir, kesambet setan, kesurupan, ketempelan jin, benarkah terjadi? Ataukah manusia yang begitu rapuh menghadapi tekanan kehidupan sehingga mudah kehilangan akal sehat dan "terpengaruh" bahkan oleh sesuatu yang tak kasat mata? ~ ~

Setelah mengecek informasi mengenai Warsinah-yang-katanya-diculik-ternyata-ketempelan-setan-, saya segera keluar rumah. Di dekat warung, teman-teman menunggu. Wajah mereka gusar dan tak sabar. “Gimana? Ada penculiknya?” 

Saya menggeleng. Emang bener diculik, tetapi diculik setan, bukan diculik manusia! Sekarang Warsinah lagi diruwat karena ketempelan setan,” jawab saya.

Beberapa detik teman-teman saya terdiam. Lalu mereka tertawa terbahak-bahak. "Sialan, sudah jauh-jauh kemari...." kata Mas Io, wartawan BJ.  

Kami lalu balik kanan, kembali ke markas wartawan. Menanti info apa lagi yang akan datang untuk diliput dan dikabarkan.


-

Keterangan foto: Seorang anak bermain dengan senjata mainan di Taman Suropati, Jakarta Pusat. Foto diambil tahun 2014. (Sometimes life gets hard and difficult, but what we can deal with shows how strong we really are! Be strong so you have reasons to not commit suicide and be possesed by supernatural beings. :D)



Setelah deadline, 6-10-2016
rambutkriwil rambutkriwil Author

Kawah Candradimuka

"Are you happy to be a journalist?" kawan saya, Luhki Herwanayogi, bertanya.

Tidak perlu waktu lama untuk menjawab pertanyaan ini. Saya tersenyum, dan menangguk. "I couldn't find any better job rather than to be a journalist, so far."

Saat itu, kami sedang duduk berhadap-hadapan, di sebuah kedai bir kecil di daerah Jakarta Selatan. Yogi merupakan seorang sutradara, penulis, juga fotografer asal Yogyakarta. Siang tadi, dia menemani saya bekerja di sebuah kedai kopi. Sore harinya, kami bertemu teman lama di Cibinong. "Malam kita hang-out, yuk! Tapi, sambil aku kerja yaa..." kata dia.

Lalu, kami terdampar di kedai bir ini. Satu-satunya tempat nongkrong yang masih buka sampai larut malam, selain sevel, indomart, alfamart, atau kosan teman. Hahahhaa!!!

Yogi membuka komputer jinjing yang menyala, lalu larut pada tahap akhir penyelesaian naskah film. Di dekatnya ada sebuah buku berjudul "A Work in Progress" karya Connor Franta. Saat itu, udara sedang sejuk sehabis diguyur hujan. Kami mendapat tempat duduk yang cukup strategis di tengah ruang yang remang-remang. Di meja kami tersaji dua botol minuman dingin rasa jeruk nipis dan sepiring keripik jamur dengan saus mayonaise.

Hari itu hari Senin. Kedai tidak terlalu ramai, hanya beberapa meja terisi. Beberapa pengunjung adalah pria kantoran yang masih mengenakan kemeja lengan panjang (yang tentu saja digulung hingga ujung siku). Ada pula sekelompok remaja yang sibuk berinteraksi dan berkomunikasi... dengan telepon genggam. Mereka tersenyum, sesekali tertawa. Sambil memandang layar datar.

Yogi menatap saya beberapa detik,... mencari penjelasan lebih lanjut. "Saya menyukai, menikmati, mencintai pekerjaan ini.... pekerjaan ini, membuat saya bahagia," kata saya.

Yogi mengangguk. Tak berapa lama kemudian, hentakan drum menggema di udara. Empat pria berbadan tambun dan kepala plontos, naik ke atas panggung. Lagu manis berjudul "Wonderful Tonight" dari Eric Clapton mengisi malam. Semua pengunjung kedai ikut bernyanyi bagai tersihir dengan suara magis sang vokalis. Suara yang merdu, musik yang pas, dengan beberapa botol minuman dingin tersaji. Apa lagi yang kau harapkan anak muda? 

I feel wonderful because I see
The love light in your eyes.
And the wonder of it all
Is that you just don't realize how much I love you.


Di antara melodi yang berbunyi, pikiran saya melayang ke masa kecil.... saat saya bersentuhan dengan dunia tulis-menulis, hingga akhirnya bercita-cita menjadi jurnalis.

Mungkin, waktu itu, saya berusia 4 atau 5 tahun. Ayah sering menceritakan maksud karikatur yang biasanya dimuat di pojok surat kabar. Ayah juga  membacakan potongan-potongan berita di koran. Saya tidak tahu maknanya, hanya saya senang mendengar ada banyak peristiwa yang terjadi di berbagai belahan bumi.

Kata ayah, orang yang menulis berita adalah wartawan. Setiap wartawan memiliki nama inisial tiga huruf yang ada di ujung tulisan. Identitas sang penulis abadi di sana. "Aku ingin punya nama inisial," kata saya. Ayah hanya mengangguk-angguk menanggapi celotehan cita-cita bocah kecil yang sering berubah sewaktu-waktu.

Saat saya duduk di bangku SD, guru saya Pak Felix, sering memberi tugas mengarang. Karena saya suka mengkhayal, tugas menulis bukan hal yang sulit dilakukan. "Tulisan kamu jelas dan informatif. Kamu cocok menjadi wartawan," kata Pak Felix, mengomentari tulisan saya.

Komentar Pak Felix itu membuat saya ingat cita-cita ketika kecil dulu: ingin menjadi wartawan. Meskipun saat itu saya belum tahu, apa tugas jurnalis.

Segala sesuatunya lalu bergerak seperti sudah digariskan. Saat SMA, saya terpilih menjadi pemimpin redaksi majalah sekolah sekaligus bekerja freelance di beberapa majalah nasional. Tulisan saya beberapa kali menang lomba majalah dinding atau mendapat penghargaan dari media besar. Setiap kali tulisan dimuat di majalah, rasa senangnyaaa..... luar biasa. Apalagi pas dapat honor penulisan!! Uang beberapa puluh ribu hasil menulis membuat saya merasa seperti milyuner!! Hahahhaha.

Saat kuliah, kecintaan saya pada dunia tulis menulis saya wujudkan dengan menulis di blog. Kalau menulis awalnya hanya hobi untuk ekspresi diri (yang kebetulan mendatangkan keuntungan finansial), sekarang saya merasa menulis membuka dunia saya lebih luas. Saya bisa mengunjungi banyak tempat baru, berkenalan dengan banyak blogger yang kemudian menjadi sahabat saya, juga merasa menjadi orang yang lebih bermanfaat.

Tetapi, kecintaan saya pada dunia tulis menulis -yang sering membuat saya teralienasi dari lingkungan sekitar- sering dianggap aneh oleh orang lain. Beberapa kali menjalin hubungan asmara, barisan mantan kekasih pun tak setuju saya bergelut pada dunia tulis menulis yang didominasi kaum pria. Ada yang bilang juga dengan nada termehe-mehe "Aku kan gak mau kehilangan kamu kalau kamu ditugaskan liputan perang..." (bwahahha saat itu kayaknya romenss, kalau diinget-inget rada geli jugaaa wkwkwk emangnya sekarang era kemerdekaan yang bakal perang terusss :p :p the good this is hubungan berakhirrr.... masa lalu biarlah masa laluuu *nyanyi dangduut* -- sorry ini intermezo hehe). Puncaknya adalah, saya berkonflik dengan ibu. Beberapa tahu lalu, dunia tulis menulis dianggap tidak bermanfaat. Aneh. Gak biasa. Butuh waktu beberapa tahun bagi saya untuk menyembuhkan luka dan sakit hati pada ibu, serta mengumpulkan kembali rasa percaya diri untuk menulis. Semua kesulitan itu berlalu seiring waktu. :)

Sekarang, ibu adalah pendukung saya nomor satu. Dia yang pertama kali memberi tahu ada lowongan pekerjaan sebagai jurnalis di harian umum KOMPAS. Ketika mau ikut uji kompetensi, ibu mendukung, memberi restu, mendokan, membantu memilih pakaian yang sesuai untuk wawancara pekerjaan, dsb...dsb... hingga akhirnya saya dinyatakan lolos menjadi wartawan.

Meski saya mencintai profesi jurnalis, nyatanya pekerjaan ini tidak mudah. Selama menempuh pendidikan wartawan dan magang satu tahun di Palmerah Selatan, sering kali saya merasa ingin mundur. Tugas yang berat, menumpuk, mencekik, dengan standar-standar tulisan begitu tinggi,... belum lagi ada perasaan minder dan segan berada di antara penulis-penulis senior di kantor redaksi. "Ibu, anak mu tak akan mampu," kata saya, sambil menahan tangis.

Tetapi, ibu yang menguatkan. Kata ibu, saya sedang berada di Kawah Candradimuka, tempat keramat dan sakti untuk menggembleng kesatria agar menjadi ksatria yang kuat dan tangguh. "Kalau kamu berhasil melaluinya, kamu akan menjadi wartawan yang hebat,"  kata ibu.

Ah ibu, sulit sekali perjalanan ini. Hingga kini pun, saya masih sangat sangat jauh dari kata hebat. Tetapi, sejauh ini, saya merasa masih harus menjalani panggilan ini... vocatio. Panggilan hidup.

Selama tiga tahun menjadi wartawan, saya merasa lebih terbuka pada realita, mampu melihat segala sesuatu tidak hanya hitam-putih kehidupan, mengunjungi lebih banyak tempat-tempat di pelosok nusantara, bertemu dengan lebih banyak orang dari berbagai latar belakang. Menjadi wartawan, meski sulit dan saya tidak tahu sampai kapan akan bertahan, adalah bukti bahwa mimpi dapat diwujudkan. Jadi kalau ditanya apakah saya bahagia menjadi jurnalis? Saya bahagia karena hidup dalam mimpi dan cita-cita yang terus dikobarkan.... :)

"Balik yuk!" kata Yogi, membuyarkan lamunan.

Saya melirik jam tangan. Waktu sudah lewat tengah malam. Kedai bir semakin ramai dengan muda-mudi. Daya tahan tubuh saya menurun karena mengantuk. "Yuk," jawab saya. Kami pun membayar makanan dan minuman. Memesan taksi online. Menembus sisa-sisa kemacetan Ibu Kota.


Jakarta, 11-08-2016

ps: foto diambil saat matahari terbit di Pulau Padar, NTT. Saat-saat traveling atau tugas di luar kota selalu membuat saya bersyukur dengan profesi yang saya jalani saat ini. Jurnalistik telah membuka pengalaman dan kesempatan mengujungi banyak tempat di Indonesia. :)



rambutkriwil rambutkriwil Author

Satu Hari Bersama Jacob

Bocah ini bernama Jacob. Usianya masih delapan tahun ketika saya pertama kali bertemu dengannya. Jacob merelakan tempat tidurnya saya pakai selama tinggal di rumahnya, di Luton, Inggris, enam tahun lalu.

Karena tempat tidur Jacob saya pakai, dia tidur di kolong meja. Jacob menyusun selimut menutupi sela di antara kaki-kaki meja dan menumpuk kain-kain di bawahnya. Dalam sekejap, meja belajar disulap meyerupai "sarang" untuk tidur. Selain membuat nyaman, tumpukan kain berguna untuk menghalau dingin.

"Are you sure you want to sleep there?" tanya saya, setengah takjub dan merasa tidak enak, pada malam pertama tinggal di rumah Jacob.

"It's okay. You need rest. I can sleep wherever I want," kata dia sambil menyusup ke dalam sarang.

Interaksi pertama dengan Jacob meninggalkan kesan: waah ni orang, kecil-kecil tetapi dewasa dan baik bangeeet.... sampai mau mengikhlaskan tempat tidurnya untuk orang asing yang datang dari antah berantah!

Kehadiran saya di rumah Jacob merupakan bagian dari program pertukaran pemuda Indonesia-Inggris bernama Global Xchange dari British Council dan VSO. Selama sekitar 10 minggu, saya tinggal di Inggris, dan berbaur dengan Keluarga Bortnichzuk yang merupakan keluarga angkat (hosthome family). 

Keluarga itu memiliki tiga anak, Annabelle, Rachael, dan Jacob. Selama di Inggris, saya dan teman asal Indonesia, Denis, tidur di kamar Jacob dan kakaknya. Kamar itu memiliki dua tempat tidur dan sebuah lemari pakaian. Meski tidak terlalu besar, ruangannya sangat nyaman dan hangat karena dilengkapi perapian.
Setiap hari, sebelum dan setelah beraktivitas di luar rumah, saya menghabiskan waktu bersama Jacob dan kakak-kakaknya. Mulai dari nonton film, main trampoline, main kartu uno, main petak umpet, hingga main di taman kota menjelang senja. Saya sanagt menikmati waktu bersama mereka.


Namun,  kadang-kadang saya merasa Jacob bertindak di luar batas,... anak itu memang terkenal tak bisa diam. Sering sekali ngajak main saat sudah larut malam, belum lagi kebiasaannya mengacak-ngacak rambut hingga menjitak-jitak kepala saya.

Saat saya kelelahan dan ingin segera rebahan, eeehhh si bocah lanang ikut masuk ke kamar dan lagi ngajak main.... Jacob juga sering bergelanjut manja di punggung saya. "Jacob, please... Go down, I am tired," kata saya, dengan wajah memelas, saat kelelahan. Tetapi, Jacob tak menyerah. Dia menarik tangan saya. Memaksa saya bermain kejar-kejaran atau bermain trampoline. Huffzz...

Suatu hari, di rumah sedang ada pesta. Saya duduk menikmati makan malam sambil ngobrol dengan teman-teman yang hadir di acara itu. Lagi enak-enak duduk-duduk santai-santai leha-leha, eehhh si bocah lanang dengan santainya naik ke pundak saya, sambil ketawa-ketawa, dan pegang-pegang kepala saya. Beuhhh, rasanyaa bikin saya ingin teriak,.... "Jacooobbb.... pegang-pegang kepala orang tuaaa gak sopaaannn...."

Saat saya memasang wajah masam,.... Jordan, teman saya, warga Inggris, mengingatkan agar saya tidak marah. "Denty, remember! This is England, this is not Indonesia. It's okay for a kid to touch your head," kata Jordan. "... and looks, what Jacob did to you is a sign of love. He just wants to play with you," kata Jordan, sebelum saya sempat merespons ucapannya.

"Yea... but, sometimes, I am tired... I can't always play with him."

"So, make him tired as well!" kata Jordan.

"Huh? What should I do??" tanya saya.

Nggak lama kemudian, Jacob kembali iseng, naik ke pundak saya... narik-narik tangan saya. Dia juga coba iseng ke Jordan. Tidak seperti saya, Jordan, meladeni keisengan Jacob sambil cengengesan.

Saat si bocah lanang mencoba naik ke atas pundak Jordan, tangan Jordan lebih lihai untuk memiting tangan Jacob. Jacob tertawa-tawa, namun tak bisa banyak bergerak..... Lama kelamaan, Jacob lelah dan akhirnya hanya tidur lemes di dekat saya dan Jordan sambil teriak-teriak.

"Main sama dia, sambil ikat tangannya, adalah cara untuk bikin anak kecil kelelahan dan gak banyak gerak.... Hahaha," ujar Jordan. Saya cuma geleng-geleng kepala.... Cara wong londo berinteraksi dengan anak kecil memang berbeda.... Kalau di Indonesia, bocah hiperaktif seperti Jacob boro-boro diajak main..... Dia pasti sudah diomelin abis-abisan, disuruh keluar rumah, trus dikuciin dari dalam..... Wakkakakkkk....

Pelajaran yang saya dapat malam itu, adat-adat kesopanan berlaku berbeda di tiap jengkal wilayah dunia. Sesuatu yang dianggap tidak sopan di suatu negara, belum tentu tidak sopan di negara lain. Selain itu, setiap anak bisa melakukan apapun untuk mengekspresikan dirinya, menunjukan rasa cinta atau ketertarikannya pada seseorang..... iseng, usil, dan sedikit tengil memanglah cara Jacob.

Malam itu saya tidur nyenyak, sambil membayangkan wajah Jacob yang akan saya rindukan beberapa tahun setelahnya.
__

Pada hari terakhir saya tinggal Inggris, Jacob bangun lebih awal. Matahari belum terbit. Suhu udara bertiup sekitar delapan hingga sembilan derajat selsius. Saat itu saya sedang menyelesaikan tahap akhir benah-benah koper. Saya kaget melihat Jacob duduk sambil menunduk di ruang keluarga. Tumben nih bocah udah bangun! "Jacob?" kata saya, sambil berjalan menghampirinya.

"Are you leaving now? Im gonna miss you..."  kata Jacob, sambil berurai air mata.

"Ah, Jacob! I am sorry..." ujar saya sambil memeluk dia.

Setengil-tengilnya Jacob ternyata perasaan dia sensitif juga..... dan ini bikin saya baper! T.T hikss... (Satu hal keren yang terjadi hari itu, Jacob mau diajak foto bareng! Biasanya dia susah banget diajak foto hahahaa)

Enam tahun berlalu. Senin lalu, saya kembali bertemu Jacob di Jakarta. Dia tumbuh tinggi besar di bandingkan terakhir kali saya melihatnya. Kata pamannya yang tinggal di Jakarta, meski sudah beranjak remaja, Jacob tetap gak bisa diam. Dia sering gangguin sepupu-sepupunya yang masih kecil sampai menangis! HAHAHAHAA!! Selain itu, Jacob makannya juga banyak! Walaupun fisiknya banyak berubah, Jacob tetaplah bocah yang sama yang iseng dan tidak bisa diam!

Pertemuan sederhana dengan Jacob dan keluarga (Tante Ani dan Rachael) membuat bahagia saya berlipat ganda. Yea, I know... time flies, but memories remain forever. And it makes me happy :)

Jakarta, 16-08-2016


rambutkriwil rambutkriwil Author

Matahari Tenggelam di Gunung Sinai (Bagian 2)

Sebelumnya:

Mendaki Gunung Sinai bukanlah pendakiangunung biasa. Mendaki gunung setinggi 2.285 mdpl itu dilakukan untuk mengenang perjalanan Nabi Musa saat menerima sepuluh perintah Allah.

Dalam bahasa Arab, Gunung Sinai dikenal dengan nama Jabal Musa. Dalam Perjanjian Lama, Gunung Sinai disebut juga Gunung Horeb. Gunung itu terletak di Semenanjung Sinai (Sinai Peninsula), perbatasan Mesir – Israel.

Di kejauhan, saya melihat deretan bukit batu yang kering dan tandus. Sejauh mata memadang, terhampar batu granit merah raksasa yang kaya kandungan mineral. Bukit-bukit batu berderet berwarna merah kecoklatan, kontras dengan langit yang berwarna biru pekat. Angin berembus meniupkan udara dingin. Pelan-pelan, di Gunung Sinai, matahari tenggelam.....  

-- 


Setelah naik unta sekitar dua jam, saya sampai pada sebuah awal pendakian berupa hamparan ratusan anak tangga yang berbatu tajam dan berpasir. Permukaan tangga bergelombang, di kiri dan kanannya tebing curam. Saya menatap langit. Cahaya kian temaram. Warna langit perlahan serupa bebatuan yang gelap pekat. 

Ahmed (29), pemandu wisata dari Keluarga Gabalia, meminta rombongan berjalan dalam satu kelompok besar. Rombongan kami terdiri dari sekitar 20 orang, berusia 8 -70 tahun. Ahmad meminta semua orang berjalan dalam satu barisan memanjang. “Kamu, berjalan di belakang ya!” kata Ahmad, ke arah saya.

"Aduh!” kata saya dalam hati. Berjalan di barisan belakang dalam rombongan besar sama sekali tidak enak. Saya harus berjalan lambat mengikuti ritme langkah puluhan orang lainnya. Sebagian anak muda di kelompok saya berjalan cepat, sebagian orang tua bergerak lambat. Saat orang-orang berhenti untuk istirahat, saya harus berhenti di bagian paling belakang. Berdiri bersandar di bebatuan, hanya ditemani embusan angin yang kian menyesakan pernafasan.

Semakin malam, perjalanan semakin menanjak, dingin, dengan oksigen yang semakin jarang. Rombongan berhenti hampir setiap 5 menit sekali karena kehabisan tenaga! Setiap kali berhenti, udara dingin terasa menusuk tulang dan merajang sendi-sendi otot paha dan lengan. “Dingin banget… Harusnya kita jalan paling depan supaya cepat sampai…” kata kakak saya, Raditya Beken Wicaksana (27), yang berada beberapa langkah di depan saya.

Hufhhh… Terbesit pikiran untuk berjalan mendahuli puluhan orang lainnya… Namun, saya ingat pesan ibu sebelum melepas keberangkatan kami mendaki Gunung Sinai. “… Jangan kamu bersungut-sungut. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.” (Yoh 6: 43, Flp 2:14).

Mengingat pesan itu, saya menunduk malu. Ah, betapa egoisnya! 

Saya berusaha mengingat niat awal mendaki Gunung Sinai, yakni demi mengenang perjalanan Nabi Musa ketika menerima 10 perintah Allah. Nabi Musa dan bangsa Israel berputar-putar di gurun 40 tahun lamanya… Tentu dia merasa kedinginan, lapar, sesak nafas, jenuh, lelah… tetapi Nabi Musa setia pada perintah Allah.



“Are you okay?” Ahmed bertanya, saat kami berhenti di balik batu besar. 

Sapaan Ahmed membuyarkan lamunan. “Yes, I am good,” jawab saya singkat.

Berjalan di barisan paling belakang dalam rombongan besar memang tidak enak. Namun, saya berusaha berdamai dengan situasi ini. Kesulitan terbesar dalam perjalanan mendaki Gunung Sinai bukanlah medan terjal atau cuaca dingin yang dihadapi, tetapi bagaimana para pendaki bisa menekan egoisme dan kepentingan diri sendiri.

Ahmed menepuk bahu saya sambil tersenyum. Perjalanan selanjutnya, dia berada di sebelah saya. Mungkin dia menemani karena kasihan karena melihat saya berjalan kepayahan. Sambil melangkah, Ahmed bercerita mengenai kehidupannya di padang gurun. 

Dari Ahmed saya tahu, suku badouin lebih betah tinggal di padang gurun dari pada di kota. "Ketika saya mati di padang gurun memang tidak akan ada yang peduli. Tetapi, di sini ada kebebasan. Kamu tidak harus tunduk kepada siapa pun,"  kata ayah tiga anak itu.

Ahmed adalah lulusan SMA. Sebelum bekerja sebagai pemandu wisata, dia bekerja paruh waktu sebagai guru bahasa Inggris di sekolah dasar. Tuntutan guru harus bergelar sarjana, membebani dia. 
Ahmed lalu bekerja sebagai gembala domba, kemudian jadi tukang unta. Beberapa tahun lalu, Ahmed mulai bekerja sebagai pemandu wisata. "Di bandingkan pekerjaan lain, uang yang saya dapatkan sekarang memang lebih sedikit. Tetapi saya percaya, Allah tidak akan membiarkan saya kelaparan,"  kata Ahmed.

"Apakah suatu hari kamu akan cari pekerjaan lain?" tanya saya.

"Mungkin saja. Saya tidak tahu. Yang penting hari ini saya menikmati kehidupan. Tomorrow may never come,"  kata dia.

Di depan saya, pasangan suami-istri berusia sekitar 50 tahun berjalan lambat. Saya membayangkan, bagaimana kalau mereka adalah ayah dan ibu saya. Bagi mereka yang terbiasa naik gunung atau berolahraga, mendaki Gunung Sinai bukanlah perkara sulit. Tetapi, bagi orang lanjut usia, pendakian ini tergolong panjang yang melelahkan. Bersama Ahmed, saya berusaha memastikan semua orang berjalan aman dalam satu barisan panjang.

--
Menjelang pukul 21.00 rombongan sampai di puncak Gunung Sinai. Di sana, angin berembus kencang, meniupkan udara dingin yang membuat kaki bergetar dan tubuh menggigil. Gelap mengepung. Di puncak gunung ada sebuah kapel (The Chapel of The Holy Trinity) bergaya basilika. Kapel ini dipercaya dibangun diatas batu berisikan 10 perintah Allah.

Setelah berdoa dan menyanyikan lagu-lagu pujian, rombongan berfoto bersama. Saya melihat kakak saya menggigil kedinginan. Dia sudah mengenakan dua lapis jaket tebal dan memakai sarung tangan. “Gue enggak kuat lagi…” kata dia, dengan suara bergetar.

Kepada Ahmed, kami meminta izin untuk berjalan di barisan paling depan. Ahmed melihat kondisi kakak saya dengan tatapan prihatin. “Oke,” kata Ahmed. “Tetapi pastikan, setelah melewati 700 tangga kalian berhenti. Di sana jalanan bercabang. Saya tidak mau kalian tersesat,”  kata dia.

Dalam kegelapan malam, saya meraba-raba perjalanan turun. Saat itu, cahaya headlamp sudah redup karena kehabisan energi. Perjalanan turun memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam. Saya berjalan mengikuti pantulan cahaya bulan di sela-sela bebatuan. Begitu sampai di ujung tangga turun, saya berhenti. Saya menyuruh kakak saya masuk ke warung makanan untuk menghangatkan diri. Sambil duduk di atas batu besar, saya menunggu semua anggota rombongan berkumpul.
“Terimakasih ya, sudah menemani berjalan,” kata salah satu anggota rombongan, sambil duduk di sebelah saya.

“Eh?” kata saya, kebingungan.

“Tadinya saya ingin menyerah berjalan karena punya penyakit asma. Tetapi, karena rombongan saling membantu dan memberi dukungan, saya jadi terpacu berjalan hingga puncak. Apalagi, kamu rela berjalan paling belakang. Maaf kamu jadi berjalan lambat,” kata pria dengan rambut berwarna putih perak itu. 

Saya tersenyum singkat. Di atas batu besar, saya memandang kegelapan yang utuh dan hening. Di dalam warung minum teh, kakak saya meringkuk kedinginan. “Semoga dia tidak pingsan karena kedinginan,” kata saya, di dalam hari.

Begitu sampai di penginapan, saya bergegas masuk ke dalam kamar mandi, mencuci kaki dan tangan, berganti pakaian, lalu naik ke atas ranjang. 

Ibu, yang melihat saya dan kakak saya kedinginan, segera merebus air. “Minumlah, setelah itu tidur yang nyenyak,” kata ibu sambil menyodorkan segelas coklat panas.

Setelah menghabiskan minuman, saya memejamkan mata. Samar-samar saya mendengar suara angin bertiup menggerakkan batang-batang pepohonan. Dingin di luar, hangat di dalam. Di hati ini.

 



... selesai.
(Oleh: Denty Piawai Nastitie)

Baca: Mendaki Gunung Sinai (Bagian 1)

rambutkriwil rambutkriwil Author

Matahari Tenggelam di Gunung Sinai (Bagian 1)



"Rumah saya seperti rumah kamu. Ada televisi, koneksi internet, dan komputer. Satu-satunya perbedaan adalah keluarga saya sulit mendapatkan air,"  kata Muhammad (27), dalam perjalanan mendaki puncak Gunung Sinai.

Muhammad adalah penduduk lokal St Cathrine, sebuah kota kecil di kaki Gunung Sinai, Mesir. Pria itu memiliki seekor unta berusia 12 tahun yang dinamakan Bush-bush. Hampir setiap hari, Muhammad membawa Bush-bush ke gerbang pendakian. Bersama puluhan pria lain, dia menawarkan jasa sewa unta untuk membantu peziarah naik ke puncak Gunung Sinai.

Saat tidak bekerja bersama unta, Muhammad bermain sepak bola atau mencari air dengan mengikuti domba-domba yang berjalan di padang gurun. “Domba-domba hanya peduli dengan urusan makanan dan air,” kata Muhammad.

Berbincang dengan Muhammad membuat saya tak merasa jenuh duduk di atas unta. Binatang gurun itu berwarna coklat muda, berjanggut, dengan tinggi sekitar dua meter. Empat kaki unta kelihatan kurus, tetapi badannya gemuk. Di pundaknya tersampir tumpukan kain berwarna cerah. 

Bush-bush bergerak menginjak batu-batuan di jalan setapak. Sebisa mungkin hewan itu melewati jalur yang tidak licin. Dia juga menghindari tebing atau tanjakan terjal. Selama perjalanan, Muhammad melepas hewan itu begitu saja. Dengan insting dan ingatan kuat, Bush-bush bergerak mengikuti jalur pendakian menuju puncak Gunung Sinai.
__

Mendaki Gunung Sinai bukanlah pendakian gunung biasa. Mendaki gunung setinggi 2.285 mdpl itu dilakukan untuk mengenang perjalanan Nabi Musa saat menerima sepuluh perintah Allah.

Dalam bahasa Arab, Gunung Sinai dikenal dengan nama Jabal Musa. Dalam Perjanjian Lama, Gunung Sinai disebut juga Gunung Horeb. Gunung itu terletak di Semenanjung Sinai (Sinai Peninsula), perbatasan Mesir – Israel.

Dari Kairo, perjalanan menuju pegunungan Sinai dapat ditempuh melalui dua jalur. Pertama, dengan perjalanan darat selama 14-16 jam dari Kairo menuju St Chaterine. Kedua, dengan perjalanan udara selama satu jam Cairo – Sharm el-Sheikh, kota pelabuhan di dekat Laut Merah. Perjalanan lalu dilanjutkan dengan naik bus selama 4-5 jam menuju St Cathrine. 

Perjalanan darat dijejali deretan bukit-bukit batu yang begitu tinggi menjulang. Bentuknya bergelombang tidak beraturan. Perjalanan melewati bentangan padang batu dan pasir yang seolah tak berujung. Saat musim panas, udara terasa panas menyengat. Saat musim dingin, udaranya membuat tulang belulang terasa mau rontok!

Di kejauhan, saya melihat rumah-rumah penduduk suku badouin. Suku badouin adalah kelompok pengembara domba dan kambing yang hidup berpindah-pindah di tanah tandus Timur Tengah. Saya juga melewati pos-pos penjagaan tentara Mesir. Petugas memeriksa paspor dan dokumen imigrasi. Selama perjalanan, rombongan didampingi seorang polisi Mesir yang membawa senjata api. 

Menjelang jam makan siang, saya sampai di kota St Chatarine. Jangan bayangkan St Catharine seperti Kota Jakarta atau Surabaya! Kota itu sangat sederhana dengan krisis air berkepanjangan. Jarak antara satu bangunan dengan bangunan lain berjauhan. Bangunan besar biasanya berupa penginapan yang dilengkapi kolam renang dan restauran. Penduduk lokal tinggal di desa-desa yang berada di hamparan gurun pasir. 




Begitu sampai di St Chatarine, saya menikmati makan siang berupa potongan besar kalkun, sup sayur, dan roti mentega. setelah itu, saya bersiap-siap mendaki puncak Gunung Sinai. Saya membawa jaket tebal, headlamp, air mineral dan tongkat untuk mempermudah perjalanan.
 
Pendakian ke Gunung Sinai dimulai dari Biara St Chatarine, tempat ditemukannya manuskrip Perjanjian Baru abad ke-4. Dari biara, pezarah bisa berjalan kaki atau naik unta menuju puncak Gunung Sinai. Waktu yang dibutuhkan dnegan berjalan kaki sekitar 4-6 jam, sedangkan bila naik unta 2-3 jam. Biaya untuk menyewa taksi, seekor unta, dan tip untuk pemilik unta sekitar 30 dollar. 

Di kaki Gunung Sinai, Muhammad membawa saya ke tempat Bush-bush beristirahat. Muhammad menepuk perut Bush-bush pelan, meminta unta itu berjongkok. Sedikit gugup, saya naik ke atas unta. Berbeda dengan unta yang ada di Piramida Giza, Bush-bush berwatak lebih tenang.

“Sudah nyaman?” tanya Muhammad.
 
“Yup!” jawab saya.

Muhammad lalu menarik tali yang terpasang di leher Bush-bush, membawa hewan itu ke jalur pendakian. Dengan gerakan lambat, Bush-bush berjalan, sekitar 20 meter di belakang unta lainnya.

Bagi saya, ini bukan pertama kalinya naik unta. Beberapa hari lalu saya naik unta bertubuh kurus dengan kaki-kaki kecil di kompleks Piramida Giza, Kairo. Setelah diperintahkan tuannya, unta itu berjongkok dengan melipat dua kaki depan dan dua kaki belakang. Dengan gerakan pelan, saya naik ke atas unta. 

Dalam sekejab, hewan itu berguncang. Hiasan di tubuhnya bergerak, gemericik. Saya menggenggam erat pegangan unta sambil menjerit. Terbersit pikiran untuk membatalkan niat naik unta. Belum sempat turun, unta jantan itu sudah berdiri. Badannya berguncang keras ke kiri dan ke kanan, membuat tubuh saya terasa oleng. “Seperti naik dinosaurus!” jerit saya kepada pemilik unta. 

Lima menit kemudian, kaki saya sudah kembali menapak di tanah. Saya merelakan uang satu dolar untuk pemilik unta. Meski batal naik unta dan berkeliling kompleks piramida, pemilik unta tetap meminta uang sewa karena saya sudah menyentuh hewan peliharaannya. Sejak saat itu, saya ogah naik unta! Namun, Di St Catharine – apa boleh buat – saya memerlukan unta untuk mendaki Gunung Sinai. 

“Bagaimana rasanya duduk di atas unta?”  tanya Muhammad.

“Cukup nyaman. Ini lebih baik daripada ketika saya naik unta di Piramida Giza. Naik unta di sana rasanya seperti naik dinosaurus!” jawab saya.

Muhammad terkekeh. Saat dia tertawa, pria itu memamerkan deretan giginya yang berwarna kecoklatan. “Tentu saja berbeda,” tutur Muhammad. "Unta itu binatang gurun, kalau tinggal di kota dia merasa stress!. Sama seperti manusia, saat dipaksa pindah dari tempat di mana dia lahir dan dibesarkan, pasti merasa asing dan stress,” ujar Muhammad.

Di kejauhan, saya melihat deretan bukit batu yang kering dan tandus. Sejauh mata memadang, terhampar batu granit merah raksasa yang kaya kandungan mineral. Bukit-bukit batu berderet berwarna merah kecoklatan, kontras dengan langit yang berwarna biru pekat. Angin berembus meniupkan udara dingin. Pelan-pelan, di Gunung Sinai, matahari tenggelam..... 


... bersambung.
(Denty Piawai Nastitie)

rambutkriwil rambutkriwil Author

rambutkriwil

chronicle of a curly girl to live a life

Featured Post

Menembus Tembok Perbatasan

Instagram Post!

Followers

LATEST POSTS